Minggu, 01 Desember 2013

KEWIRAUSAHAAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Kewirausahaan Dalam Perspektif Islam
Islam memang tidak memberikan peenjelasan secara eksplisit terkait konsep kewirausahaan (entrepreneurship) ini, namun diantara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat; memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.
Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng. Setidaknya terdapat beberapa ayat al-Quran maupun hadis yang dapat menajdi rujukan tentang semangat kerja keras dan kemandirian ini “ Amal yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, ‘amalurrojuli biyadihi (HR. Abu Dawud)”;
<!--more--> 

“Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”; “Al yad al ulya khairun min al yad al sulfa” (HR Bukhari dan Muslim) dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk kerja keras supaya memilki kekayaan, sehingga memberikan sesuatu pada orang lain) atuzzakah (Qs. Nisa :77)
Manusia harus membayar zakat (Alloh mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan dapat menjalankan kewajiban membayar zakat)”
Dalam sebuah ayat Alloh mengatakan, “Bekeejalah kamu, maka Alloh dan orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan kamu “ (Qs. At-Taubah : 105). Oleh karena itu, apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (Rizki) Alloh (Qs. Al Jumuah : 10)
Bahkan Sabda Nabi, “ Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah shalat fardhu” (HR Tabrani dan Baihaqi)
Nash ini jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri.
Bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip bekerja keras, menurut Wafiduudin adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (resiko).
Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara yang piawai. Beliau adalah prakktisi ekonomi dan sosok tauladan bagi umat. Oleh karena itu, sebenarnya tidaknlah asing dikatakan bahwa mental entrepreneur inheren dengan jiwa umat islam itu sendiri. Bukanlah Islam adalah agama kaum pedagang, disebarkan keseluruh dunia setidaknya sampai abad ke 13 M, oleh para pedagang muslim.
Dari katifitas perdagangan yang dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah mengubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.
Oleh karena itu, Nabi juga bersabda “Innalloha yuhibbul muhtarif” (sesungguhnya Alloh sangat mencintai orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan). Umar bin Khattab mengatakan sebaliknya bahwa “ Aku benci salah seorang diantara kalian yang tidak mau bekerja yang menyangkut urusan dunia”.
Wallohu alam bissowab.

0 komentar:

Posting Komentar