Minggu, 24 November 2013

Weekly Review Trust



WEEKLY REVIEW TRUST
18 - 22 November 2013



IHSG gagal bertengger di zona hijau sepekan kemarin.....
Laju nilai tukar Rupiah yang masih dalam tren penurunannya seiring masih beredarnya spekulasi tappering
off The Fed berimbas negatif pada laju IHSG yang tidak mampu bertahan di zona hijau. Meski sempat positif
saat laju bursa saham Asia menghijau namun, nyatanya belum pulihnya laju nilai Rupiah dan masih defisitnya
neraca pembayaran BI serta masih adanya nett sell asing memberatkan IHSG untuk melanjutkan kenaikan.
Dengan demikian, IHSG belum dap. Sepanjang pekan kemarin, asing semakin besar jualannya hingga senilai
Rp2,22 triliun atau lebih besar dari pekan sebelumnya senilai Rp1,15 triliun.
Pergerakan IHSG kembali melanjutkan pelemahannya pada awal pekan di tengah variatif cenderung
menguatnya laju bursa saham Asia dan positifnya laju bursa saham AS di akhir pekan sebelumnya. Antisipasi
pelaku pasar terhadap rilis BI rate telah membawa saham-saham perbankan melemah dan menyeret sahamsaham
di sektor lainnya. Laju IHSG yang awalnya hanya melemah tipis dan mencoba untuk rebound,
berubah menjadi pelemahan setelah dipersuram oleh hasil RDG BI yang menaikkan BI rate dari level 7,25%
menjadi 7,5% yang tentunya dipersepsikan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia belum akan membaik
dan terutama masih akan tingginya inflasi hingga akhir tahun. Pelaku pasar pun ramai-ramai melakukan aksi
jual sehingga IHSG terhempas dari target supportnya di level 4400an. Laju IHSG bukannya membaik, justru
semakin anjlok dengan memanfaatkan rilis kenaikan BI rate tersebut untuk jor-joran melakukan aksi jual.
Angin positif sempat berhembus seiring dengan positifnya bursa saham AS yang berimbas pada bursa
saham Asia, termasuk IHSG setelah merespon pernyataan dari calon tunggal Gubernur The Fed, Jennet
Yellen, yang masih akan melanjutkan stimulus sehingga dapat mengimbangi sakit hati dari para pelaku pasar
atas kenaikan BI rate yang tidak terduga. Selain itu, pelaku pasar juga memanfaatkan pelemahan yang terjadi
sebelumnya untuk kembali masuk pasar namun, kenaikan ini tidak bertahan lama dimana akhir pekan
kemarin IHSG kembali lunglai.
Laju nilai tukar Rupiah masih dalam tren melemah sepanjang sepekan kemarin. Sentimen dari jelang
rilis BI rate juga sempat membuat pelaku pasar di pasar valas bersikap wait & see. Di sisi lain, laju US$ juga
masih dalam kenaikan setelah memfaktorkan rilis kenaikan data nonfarm payrolls meskipun dari rilis
unemployment rate naik tipis dan consumer spending AS yang turun tipis. Meskipun laju € terapresiasi
dibandingkan US$ seiring rilis beberapa data dari Jerman dan Italia yang cukup positif namun, belum dapat
mengalahkan dominasi US$ terhadap mata uang emerging market. Selain itu, kenaikan BI rate 25 bps
bukannya membuat Rupiah dapat bertahan di tengah spekulasi tersebut, justru malah memperparah lajunya.
Laju € yang mulai tertahan kenaikannya seiring dengan persepsi factory output zona Euro yang turun dan
pertumbuhan yang masih akan melambat dimanfaatkan pelaku pasar untuk beralih ke US$ yang masih
menunjukkan tren kenaikannya seiring dengan masih beredarnya spekulasi tappering off yang akan mulai
dilakukan pada bulan Desember. Belum lagi laju ¥ yang masih bergerak melemah dengan adanya spekulasi
bulan depan BoJ akan menambah stimulus ekonominya. Pernyataan Yellen terhadap masih diperlukannya
stimulus The Fed telah membuat laju US$ sedikit mengalami pelemahan dan berimbas positif pada laju
Rupiah yang dapat bergerak menguat. Apresiasi yang sempat terjadi tidak bertahan lama dan kembali ke
zona merah di akhir pekan. Rp11680-11386 (kurs tengah BI).
Estimasi Pergerakan IHSG
Diperkirakan pekan depan, IHSG akan berada pada rentang Support 4268-4300 dan Resisten 4430-4496.
IHSG membentuk pola menyerupai separating lines di bawah middle bollinger bands. MACD bergerak flat
dengan histogram positif yang sedikit memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal bertahan dari
penurunannya dan mendekati area oversold. IHSG sempat berada di bawah target support (4387-4455) dan
mengakhirinya di kisaran target tersebut sehingga memberi gambaran masih adanya potensi aksi jual yang
melemahkan IHSG. Diharapkan pelemahan dapat terbatas sehingga tidak memperpanjang tren pelemahan
yang terjadi.

Sumber : http://trust.co.id

0 komentar:

Posting Komentar